Selasa, 03 April 2018

PROSES KOGNITIF SISWA
DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA


Salah satu karakteristik matematika adalah memiliki objek kajian yang abstrak. Menurut Soedjadi (2000), objek dasar matematika yang berupa fakta, konsep, operasi atau  relasi dan prinsip merupakan objek mental atau objek pikiran. Pemahaman siswa tentang objek matematika tersebut tidak dapat dilihat hanya dari prestasi belajar yang diperolehnya, namun perlu diamati bagaimana siswa belajar.

Belajar merupakan aktivitas yang terkait dengan  proses  kognitif.  Proses  kognitif adalah proses mental individu yang dapat dipahami sebagai pemrosesan informasi (Jones, 2006). Pemrosesan informasi melibatkan penerimaan informasi dan mengorganisasikannya dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, menyimpan informasi, dan memanggil kembali informasi tersebut ketika dibutuhkan (Slavin, 2009). Atkinson dan Shiffrin mengajukan teori pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa in-formasi diproses dan disimpan dalam tiga tahap, yaitu:

  1. Register pengindraan (sensory memory), 
  2. Memori jangka pendek (short-term memory),
  3. Memori  jangka panjang (long-term memory).

Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki strategi kognitif yang baik. Diyakini bahwa kompetensi sering merupakan hasil dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan di karenakan kemampuan superior pribadi atau kerja keras belaka (Woolfolk, 2008). Pengguna strategi yang baik adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitifnya.

Strategi kognitif dalam pemecahan masalah mencakup:

  1. Strategi kognitif yang meliputi recall, integrasi, organisasi (recall and transformation), dan elaborasi 
  2. Strategi meta-learning yang meliputi perencanaan, attending, encod-ing, review dan evaluasi. 


Dalam memecahkan masalah, siswa atau individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu tersebut serta memengaruhi proses belajarnya, antara lain:

  1. Kecerdasan 
  2. Keberbakatan 
  3. Gaya kognitif  
  4. Gaya berpikir
  5. Gaya   belajar,
  6. Daya adopsi
  7. Kemampuan awal

Dalam Altun dan Cakan (2006) disebutkan bahwa dengan mengidentifikasi gaya kognitif siswa, para pendidik terbantu untuk memahami bagaimana seseorang mengorganisasikan dan merepre-sentasikan informasi.

Gaya kognitif mengacu kepada karakteristik seseorang dan konsistensi dalam menanggapi, mengingat, mengorganisasikan, memroses, berpikir dan memecahkan masalah.  Pendidikan matematika di tanah air saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, terutama di kalangan pengambil kebijakan, untuk memperbaharui pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja (Sutarto Hadi, 2005).

Pada kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika, jika guru dapat mengatikan antara materi yang dibahas dengan kondisi siswa, baik hobi atau kebutuhan siswa, perkembangan kognitif, lingkungan keseharian, dan bekal yang telah dimiliki siswa, maka akan berdampak positif bagi siswa yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam mempelajari suatu konsep matematika menjadi menyenangkan (joyful learning).

Pembelajaran ini bisa diterapkan melalui penggunaan masalah kontekstual sebagai jembatan pemahaman siswa terhadap matematika, karena penggunaan masalah kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yangdipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.

Misalnya, ketika siswa SMP dihadapkan pada materi pelajaran seperti aritmetika sosial, diharapkan siswa mampu memahami konsep-konsep terkait materi tersebut. Berdasarkan teori belajar bermakna Ausubel, ketika siswa belajar aritmetika sosial, guru dapat membantu siswa dengan memancing pengetahuan siswa terkait masalah jual beli yang pernah mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut mampu memperkuat struktur kognitif siswa sehingga ketika siswa menemui masalah terkait aritmetika sosial, mereka mampu memberikan pemecahan masalah yang sesuai dengan konsep konsep yang telah mereka pelajari dan mereka alami. Pembelajaran dengan menggunakan masalah-masalah kontekstual dan pembelajaran yang menyenangkan sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran harus bermakna (meaningful learning), yang antara lain diajukan oleh Ausubel. Menurut Ausubel (1963: 42-43), ada dua macam proses belajar, yakni proses belajar bermakna dan proses belajar menghafal.

Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Jadi, proses belajar tidak sekedar menghafal konsep konsep atau fakta-fakta belaka (root learning), namun berusaha menghubungkan konsep-konsep atau fakta-fakta tersebut untuk menghasilkan pemahaman yang utuh (meaningfull learning), sehingga konsep yang dipelajari dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.

Belajar bermakna memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan belajar hafalan. Menurut Meral (2009:28), karakteristik belajar bermakna yaitu:  Penggabungan substantif pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa Upaya  yang disengaja untuk menggabungkan pengetahuan dengan konsep yang lebih tinggi dalam struktur kognitif siswa Pembelajaran  yang berkaitan dengan pengalaman baik itu berupa peristiwa atau kejadian yang ada disekitar Komitmen tentang sikap yang berhubungan dengan pengetahuan baru sebelum masuk pada materi yang akan dipelajari.

Dalam pandangan Ausubel, untuk belajar secara bermakna, siswa harus menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar, 2011: 95). Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Menurut Ausubel (Dahar, 2011: 99), prasyarat-prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut.
Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaan materi tergantung pada dua faktor berikut:

  1. Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis.
  2. Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
  3. Anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna. Tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna.


Pada pembelajaran matematika, konsep pembelajaran bermakna konsisten dengan pandangan konstruktivis dimana siswa dikatakan memahami jika mereka membangun makna dari pengalaman mereka dengan membuat koneksi kognitif antara pengalaman baru dan pemahaman matematika mereka sebelumnya, tidak sekadar menghafal rumus/dalil.


Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kita sebagai guru, dimana jika siswa tidak bisa menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui, sehingga membuat mereka sulit untuk menghubungkan antara pengalaman baru dengan pemahaman materi matematika sebelumnya?

11 komentar:

  1. Jika seorang anak tidak kesulitan menghubungkan antara pengalaman baru dengan materi sebelumnya, sikap kita sebagai guru yaitu membuat kalimat yang paling sederhana yang dapat dimengerti oleh siswa kita, atau kita munculkan contoh- contoh yang berkaita dengan kehidupan nyata disekitar nya

    BalasHapus
  2. Menurut saya jangan jadikan pembelajaran seperti rutinitas sehingga menimbulkan kejenuhan pada siswa.
    Buat pembelajaran yang menyenangkan seperti membuat media, game, sesuai konteks. Sehingga pembelajaran lebih bermakna dan siswa lebih mudah dalam memahami pelajaran dan mudah mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi sebelumnya.

    BalasHapus
  3. Sebagai seorang guru, kita berikan cotoh konkrit yang mudah dipahami, dan membantu siswa membuka skemanya yang sudah ada tentang materi baru dengan beberapa contoh atau cerita.

    BalasHapus
  4. kalau menurut saya, sikap kita sebagai guru apabila menjumpai permasalahan seperti itu kita sebagai guru harus bisa menuntun siswa bisa menghubungkan pengalaman baru ke materi sebelumnya

    BalasHapus
  5. Saya rasa untuk memudahkan materi konsep baru, guru memberikan apersepsi materi sebelumnya dan kegunaan nya, untuk dipelajari menggunakan umpan balik dan diberikan reward agar siswa lebih bersemangat dlm bljr .

    BalasHapus
  6. sebaiknya guru sering mengingatkan kembali pembelajaran sebelumnya

    BalasHapus
  7. Bearti guru harus memberikan apersepsi untuk mengingatkan kembali mereka akan materi yang lalu yang merupakan materi prasyarat materi yang akan datang.

    BalasHapus
  8. Seorang guru harus memberikan apersepsi yang dapat dengan mudah dipahami oleh siswa yakni dengan menghubunkan dengan pengetahuan yang telah mereka ketahui seperti menghubungkan materi kedalam kehidupan shari-hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi bagai mana kalaw materinya sulit? Untuk diaplikasikan kedalam kehidupan sehari hari.

      Hapus
    2. Tapi bagai mana kalaw materinya sulit? Untuk diaplikasikan kedalam kehidupan sehari hari.

      Hapus
  9. jika siswa sulit menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan lama .. mungkin bisa dengan cara dalam proses pembelajaran guru perlu flashback.. atau mereview materi pertemuan sebelumnya.. dan guru perlu membimbing siswa dalam menggabungkan pengetahuan siswa

    BalasHapus