PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN BERBASIS PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, budaya pengujian lebih dominan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari teknik evaluasi yang dilakukan oleh guru, sekolah, maupun pemerintah yang lebih berorientasi pada pengetahuan hafalan dan penguasaan kemampuan tingkat rendah. Dalam budaya pengujian, pembelajaran dipersepsikan sebagai proses akuisisi fakta, aturan, dan keterampilan, sehingga penilaian lebih cenderung dilihat sebagai cara untuk memberikan sanksi dan verifikasi melalui tes beresiko tinggi. Dengan kata lain, pilihan umpan balik yang dilakukan guru sebagai pertanggungjawabannya lebih kepada pemberian skor atau ranking yang diberikan setelah pengujian selesai. Hal ini memberikan tekanan dan membangun keyakinan guru untuk mengambil pilihan mengajar yang bersifat superfisial danfokus pada apa yang akan diujikan daripada membangun pengetahuan siswa secara konstruktif.
Paradigma penilaian sebagai cara untuk mengidentifikasi sejumlah pengetahuan yang "disimpan" dalam pikiran siswa menimbulkan pertanyaan besar, yakni apakah proses penilaian hanya dipandang sebagai sebuah pertanggung jawabkan:
Apa yang telah dilakukan oleh guru dan siswa di kelas?
Apakah pengajaran yang dilakukan hanya untuk diujikan?
Apakah penilaian (melalui pengujian) yang dilakukan telah merefleksikan hasil pembelajaran secara keseluruhan?
Penilaian yang hanya dipandang sebagai cara memberitahukan kepada siswa dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan subjektivitas yang bias dan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, di antaranya
Mendorong pembelajaran secara hafalan dan superfisial
Tujuan utama penilaian lebih dipandang sebagai kompetisi, membandingkan antara siswa satu dengan yang lain ketimbang perbaikan personal
Tidak memperhatikan kesulitan belajar yang mungkin dialami siswa
Memisahkan penilaian dalam proses pembelajaran
Menjadi pendorong pada kecemasan berlebih
Berpengaruh pada rendahnya self-esteem dan self-beliefs sebagai pembelajar
Belajar merupakan proses interaktif di mana siswa mencoba untuk memahami informasi baru dan mengintegrasikannya ke dalam apa yang mereka sudah ketahui, Peran penilaian dalam pembelajaran diperlukan untuk mengukur apa yang siswa ketahui dan perlukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan yang berfungsi sebagai bukti belajar. Di samping itu, penilaian digunakan untuk menginformasikan kepada guru untuk merefleksikan pengajarannya dan membuat perbaikan menuju tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertujuan untuk pemberian skor atau ranking, tetapi juga upaya untuk menyediakan umpan balik kepada siswa maupun guru untuk melakukan perbaikan belajarmengajar sesegera mungkin untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini mengandung makna bahwa penilaian selalu menjadi bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran serta menjadi bagian krusial untuk membantu siswa dan guru dalam meningkatkan efektivitas belajar-mengajar.
LebBlack dan William (1998) melalui studi analisis terhadap 250 penelitian tentang classroom formative assessment yang diterbitkan antara 1987 dan 1998 menemukan bahwa beberapa studi menunjukkan bukti kuat bahwa penilaian dapat membantu siswa untuk meningkatkan standar dan prestasi mereka. Dengan kata lain, fokus penilaian yang terintegrasi dalam pembelajaran lebih kepada bagaimana menghasilkan peningkatan substansial dalam hasil belajar siswa dari pada hanya digunakan untuk mengukur dan melihat hasil belajar. Meskipun demikian, beberapa penelitian di atas belum mengungkapkan secara rinci bagaimana strategi penilaian yang digunakan. Hal ini mendorong penelitian ini untuk mengembangkan desain pembelajaran yang mencakup strategi-strategi penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika, khususnya disekolah dasar. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika disekolah dasar. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini yakni untuk melihat apakah terdapat peningkatan performa matematika siswa sekolah dasar melalui implementasi pembelajaran berbasis penilaian yang dikembangkan.
Istilah pembelajaran berbasis penilaian atau assessment based learning (ABL) dalam penelitian ini mengacu pada peran penilaian sebagai bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran dan digunakan untuk mewadahi tujuan penilaian yang mencakup assessment as learning (AaL), assessment for learning (AfL), dan assessment of learning (AoL). Ketiga bentuk penilaian tersebut memiliki kontribusi masingmasing dalam pembelajaran tetapi dalam cara yang sangat berbeda sehingga ketiganya lebih dipandang sebagai tujuan daripada suatu metode untuk menetapkan hasil yang diinginkan dalam proses pembelajaran bahwa jika fokus utama penilaian ingin meningkatkan pembelajaran untuk semua siswa, peran AaL dan AfL perlu mendapatkan penekanan yang lebih tinggi daripada AoL. Komposisi AaL, AfL, dan AoL yang proporsional sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran dapat diilustrasikan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Piramida Komposisi Penilaian yang Proporsional (WNCP, 2006: 15)
Terdapat setidaknya empat unsur utama yang harus diperhatikan dalam mengembangkan ABL sehingga menghasilkan tujuan untuk menghantarkan siswa belajar mencapai pemahaman, yakni fokus pembelajaran, pertanyaan efektif, umpan balik formatif, penilaian diri dan sejawat (Black dkk, 2003, 2004; Lee, 2006; Council for the Curriculum Examinations and Assessment [CCEA], 2009).
Keefektifan desain ABL terhadap performa matematika diukur dengan menggunakan instrumen tes kemampuan pemecahan pemecahan masalah pada topik operasi bilangan cacah sampai tiga angka. Validitas instrumen dilakukan dengan diskusi antarpeneliti, kemudian dikonsultasikan kepada ahli. Instrumen ini terdiri dari tiga soal yang menggunakan pedoman rubrik untuk pemberian skor. Setiap soal memiliki skor 4 untuk kriteria jawaban yang memenuhi masing-masing indikator, yakni
Memahami dengan benar dan tepat maksud dari setiap pertanyaan tersebut
Menerapkan pengetahuan yang tepat untuk menyelesaikan masalah
Menerapka langkah-langkah yang tepat ketika melakukan perhitungan
Menghasilkan jawaban yang tepat. Dengan demikian,skor maksimal untuk instrumen tes ini adalah 12.
Pertanyaan :
Penilaian yang hanya memberitahukan kepada siswa dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang guru akan hal tersebut?
Jadi untuk masalah tersebut..kita sebagai guru harusnya bisa menerapakkan prinsip atau aturan dalam melakukan proses penilaian atau assesmen kepada siswa kita..sehingga dengan hal itu akan membuat penilaian yang bermakna serta fair bagi siswa...
BalasHapusJika diperlukan penialian harus didesain sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran berkualotas dan targwt penilaian atau evaluasi juga tercapai tidak hanya berpatokan cuma pada angka.
HapusSebagai guru kita harus melakukan assesment sesuai prinsip dan tahapan sebenarnya, yaitu,,, mengenai konsep pemahaman siswa, skil matematikanya, kemampuannproblem solvingnya, dan sikap mereka thd mtk. Dengan melakukan assesmet dengan jelas dan transparant, maka siswa akan merasa assesment tsb sudah fair dan sesuai dengan apa yg telah mereka usahakan. Dan harus ditekankan pada siswa, bahwa penilaian bukan diakhir saja, bukan skor akhir saja, tetapi penilaian dilakukan selama proses pembelajaran.
BalasHapusSaya pribadi kurang setuju dengan sistem penilaian berupa pilihan ganda. Karena tidak dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan anak dalam menyelesaikan masalah yang ada. Alangkah lebih baiknya jika soal yang digunakan dalam penilaian adalah soal kombinasi tang terdiri dari ganda, isian singkat dan uraian. Dengan begitu bisa terlihat jelas kemampuan anak menyelesaikan soal yang diberikan.
BalasHapusmenurut saya penilaian tidak hanya mengambil nilai.
BalasHapusada baiknya menggunakan pertanyaan secara essai dan membuat pertanyaan yang dapat menggembangan soal dalam bentuk open-ended.
sebagai guru dalam pengambilan nilai tidak hanya mengambil skor akhir saja melainkan kita juga harus mengamati bagaimana proses peserta didik tersebut dalam menyelesaikan soal tersebut
BalasHapusMenurut saya Alangkah lebih baiknya jika soal yang digunakan dalam penilaian adalah soal kombinasi tang terdiri dari ganda, isian singkat dan uraian. Dengan begitu bisa terlihat jelas kemampuan anak menyelesaikan soal yang diberikan.
BalasHapusMenurut saya Alangkah lebih baiknya jika soal yang digunakan dalam penilaian adalah soal kombinasi tang terdiri dari ganda, isian singkat dan uraian. Dengan begitu bisa terlihat jelas kemampuan anak menyelesaikan soal yang diberikan.
BalasHapusGuru sebaiknya memberikan soal yang terbuka agar bisa menilai sejauh mana pemahaman siswa tentang konsep tertentu
BalasHapusGuru harus melaksanakan penilaian formatif, agar penilain sumatif dapat lebih baik.
BalasHapus