A.
Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian autentik adalah istilah yang diciptakan
untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat
mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan
menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan
keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam
dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991). Dalam hal ini adalah
simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi siswa yang ditemui di dalam
praktik dunia nyata.
Penilaian
autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja
sama dengan siswa. Dalam penilaian autentik, keterlibatan siswa sangat penting.
Asumsinya peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar secara lebih baik
jika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Peserta didik diminta untuk
merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong
kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada penilaian autentik, guru menerapkan
kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan
pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
B.
Konsep Penilaian Autentik
Penilaian autentik (authentic assesment)
adalah suatu proses pengumpulan , pelaporan dan penggunaan informasi tentang
hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan
berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai
akuntabilitas publik (Pusat Kurikulum, 2009). Penilaian dalam kurikulum 2013
mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Pendidikan.
Tujuan penilaian autentik:
1.
perencanaan penilaian
peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan
prinsip-prinsip penilaian,
2.
pelaksanaan penilaian peserta didik secara
profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks
sosial budaya; dan
3.
pelaporan hasil penilaian peserta didik secara
objektif, akuntabel, dan informatif
C.
Bentuk Penilaian Autentik
1.
Penilaian Kinerja
Penilaian unjuk kerja
merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan
dengan menggunakan daftar cek (check list), skala penilaian (rating
scale). Daftar cek (check list) digunakan untuk mengetahui muncul
atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari
indikator atau subindikator yang muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
2.
Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project
assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus
diselesaikan oleh peserta didik menurut periode waktu tertentu. Kunandar
(2012:279) mengemukakan bahwa “penilaian terhadap suatu tugas meliputi
pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, dan penyajian data”. Tugas
tersebut dapat berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data.
3.
Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio
bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi
secara berkelompok, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. Teknik penilaian portofolio di dalam kelas
memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Jelaskan kepada peserta
didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja
peserta didik yang digunakan guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh
peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolio peserta didik dapat mengetahui
kemampuan, keterampilan, dan minatnya.
b.
Tentukan bersama peserta
didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara
peserta didik yang satu dan orang lain bisa sama bisa berbeda.
c.
Kumpulkan dan simpanlah
karya-karya peserta didik dalam satu map atau folder di rumah atau loker
masing-masing di sekolah.
d.
Berilah tanggal pembuatan
pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat
perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
e.
Tentukan kriteria penilaian
sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara
penilaian kualitas karya para peserta diclik.
f.
Minta peserta didik menilai
karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik,
bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan
kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara rnemperbaikinya. Hal ini dapat
dilakukan pada saat membahas portofolio.
g.
Setelah suatu karya dinilai
dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki.
4.
Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis atas hasil
pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai
menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atasmateri
yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat
komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik. Tes tertulis
berbentuk esai menuntut dua jenis pola jawaban,
a)
jawaban terbuka (extended-response)
b)
jawaban terbatas (restricted-response).
5.
Penilaian Sikap
Kunandar
(2013:105) membagi lima jenjang proses berpikir ranah sikap, yaitu menerima
atau memerhatikan, merespon atau menanggapi, menilai atau menghargai,
mengorganisasi atau mengelola, dan berkarakter.
Objek sikap yang perlu dinilai dalam
proses pembelajaran adalah:
a)
Sikap
terhadap mata pelajaran.
b)
Sikap
terhadap guru/ pengajar.
c)
Sikap
terhadap proses pembelajaran.
Cara atau teknik,
yaitu teknik observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.
a)
Observasi
perilaku
b)
Pertanyaan
langsung
c)
Laporan
pribadi
6.
Penilaian Diri
Penggunaan teknik ini dapat memberi
dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas
antara lain:
a)
dapat menumbuhkan rasa
percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya
sendiri;
b)
peserta didik menyadari kekuatan darri
kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan
introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
c)
dapat mendorong,
membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka
dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan
kriteria yang jelas dan objektif. Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta
didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a)
Menentukan kompetensi atau
aspek kemampuan yang akan dinilai.
b)
Menentukan kriteria
penilaian yang akan digunakan.
c)
Merumuskan format penilaian,
dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian.
d)
Merminta peserta didik untuk
melakukan penilaian diri.
e)
Guru mengkaji sampel hasil
penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa
melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.
f)
Menyampaikan umpan balik
kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian
yang diambil secara acak
Dari pemaparan penilaian
diatas apakah kita perlu melakukan penilaian diri siswa dalam penilaian proses
pembelajaran? Dan jika kita tidak memakai penilaian autentik apakah hasil
pembelajaran siswa tidak maksimal sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai?
A.
Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian autentik adalah istilah yang diciptakan
untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat
mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan
menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan
keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam
dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991). Dalam hal ini adalah
simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi siswa yang ditemui di dalam
praktik dunia nyata.
Penilaian
autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja
sama dengan siswa. Dalam penilaian autentik, keterlibatan siswa sangat penting.
Asumsinya peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar secara lebih baik
jika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Peserta didik diminta untuk
merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong
kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada penilaian autentik, guru menerapkan
kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan
pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
B.
Konsep Penilaian Autentik
Penilaian autentik (authentic assesment)
adalah suatu proses pengumpulan , pelaporan dan penggunaan informasi tentang
hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan
berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai
akuntabilitas publik (Pusat Kurikulum, 2009). Penilaian dalam kurikulum 2013
mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Pendidikan.
Tujuan penilaian autentik:
1.
perencanaan penilaian
peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan
prinsip-prinsip penilaian,
2.
pelaksanaan penilaian peserta didik secara
profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks
sosial budaya; dan
3.
pelaporan hasil penilaian peserta didik secara
objektif, akuntabel, dan informatif
C.
Bentuk Penilaian Autentik
1.
Penilaian Kinerja
Penilaian unjuk kerja
merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan
dengan menggunakan daftar cek (check list), skala penilaian (rating
scale). Daftar cek (check list) digunakan untuk mengetahui muncul
atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari
indikator atau subindikator yang muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
2.
Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project
assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus
diselesaikan oleh peserta didik menurut periode waktu tertentu. Kunandar
(2012:279) mengemukakan bahwa “penilaian terhadap suatu tugas meliputi
pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, dan penyajian data”. Tugas
tersebut dapat berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data.
3.
Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio
bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi
secara berkelompok, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. Teknik penilaian portofolio di dalam kelas
memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Jelaskan kepada peserta
didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja
peserta didik yang digunakan guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh
peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolio peserta didik dapat mengetahui
kemampuan, keterampilan, dan minatnya.
b.
Tentukan bersama peserta
didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara
peserta didik yang satu dan orang lain bisa sama bisa berbeda.
c.
Kumpulkan dan simpanlah
karya-karya peserta didik dalam satu map atau folder di rumah atau loker
masing-masing di sekolah.
d.
Berilah tanggal pembuatan
pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat
perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
e.
Tentukan kriteria penilaian
sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara
penilaian kualitas karya para peserta diclik.
f.
Minta peserta didik menilai
karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik,
bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan
kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara rnemperbaikinya. Hal ini dapat
dilakukan pada saat membahas portofolio.
g.
Setelah suatu karya dinilai
dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki.
4.
Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis atas hasil
pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai
menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atasmateri
yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat
komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik. Tes tertulis
berbentuk esai menuntut dua jenis pola jawaban,
a)
jawaban terbuka (extended-response)
b)
jawaban terbatas (restricted-response).
5.
Penilaian Sikap
Kunandar
(2013:105) membagi lima jenjang proses berpikir ranah sikap, yaitu menerima
atau memerhatikan, merespon atau menanggapi, menilai atau menghargai,
mengorganisasi atau mengelola, dan berkarakter.
Objek sikap yang perlu dinilai dalam
proses pembelajaran adalah:
a)
Sikap
terhadap mata pelajaran.
b)
Sikap
terhadap guru/ pengajar.
c)
Sikap
terhadap proses pembelajaran.
Cara atau teknik,
yaitu teknik observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.
a)
Observasi
perilaku
b)
Pertanyaan
langsung
c)
Laporan
pribadi
6.
Penilaian Diri
Penggunaan teknik ini dapat memberi
dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas
antara lain:
a)
dapat menumbuhkan rasa
percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya
sendiri;
b)
peserta didik menyadari kekuatan darri
kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan
introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
c)
dapat mendorong,
membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka
dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan
kriteria yang jelas dan objektif. Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta
didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a)
Menentukan kompetensi atau
aspek kemampuan yang akan dinilai.
b)
Menentukan kriteria
penilaian yang akan digunakan.
c)
Merumuskan format penilaian,
dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian.
d)
Merminta peserta didik untuk
melakukan penilaian diri.
e)
Guru mengkaji sampel hasil
penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa
melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.
f)
Menyampaikan umpan balik
kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian
yang diambil secara acak
Dari pemaparan penilaian
diatas apakah kita perlu melakukan penilaian diri siswa dalam penilaian proses
pembelajaran? Dan jika kita tidak memakai penilaian autentik apakah hasil
pembelajaran siswa tidak maksimal sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai?
berdasarkan penyajian ibu netri di atas maka penilaian autentik sangat penting dalam pembelajaran karena udah di paparkan macam macam penilaian dengan semua aspek aspeknya. jika guru tidak menggunakan penilaian autentik hasil pembelajaran akan tetap ad namun kurang sesuai dengan tujuan dan indikator yang diinginkan oleh kurikulum yang sedang berlangsung
BalasHapuspenilaian autentik itu sangat penting, karena dalam penilaian autentik kita dituntut menilai proses bukan hasil jadi, menurut saya jika tidak dilakukan penilaian autetik maka hasil pembelajaran kurang maksimal
BalasHapuspenilaian autentik sangat diperlukan dalam pembelajaran, jika tidak dilakukan penilaian autentik hasil pembelajaran tidak sesuai dengan apa ingin kita harapkan
BalasHapusPenilaian autentik adalah istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991). Dalam hal ini adalah simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi siswa yang ditemui di dalam praktik dunia nyata. Jika penilaian autentik tidak dilakukan bagaimana guru tahu kemampuan kognitif dan keterampilan siswa dalam memahami materi? Jadi guru harus melakukan penilaian autentik
BalasHapus