PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN BERBASIS PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, budaya pengujian lebih dominan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari teknik evaluasi yang dilakukan oleh guru, sekolah, maupun pemerintah yang lebih berorientasi pada pengetahuan hafalan dan penguasaan kemampuan tingkat rendah. Dalam budaya pengujian, pembelajaran dipersepsikan sebagai proses akuisisi fakta, aturan, dan keterampilan, sehingga penilaian lebih cenderung dilihat sebagai cara untuk memberikan sanksi dan verifikasi melalui tes beresiko tinggi. Dengan kata lain, pilihan umpan balik yang dilakukan guru sebagai pertanggungjawabannya lebih kepada pemberian skor atau ranking yang diberikan setelah pengujian selesai. Hal ini memberikan tekanan dan membangun keyakinan guru untuk mengambil pilihan mengajar yang bersifat superfisial danfokus pada apa yang akan diujikan daripada membangun pengetahuan siswa secara konstruktif.
Paradigma penilaian sebagai cara untuk mengidentifikasi sejumlah pengetahuan yang "disimpan" dalam pikiran siswa menimbulkan pertanyaan besar, yakni apakah proses penilaian hanya dipandang sebagai sebuah pertanggung jawabkan:
Apa yang telah dilakukan oleh guru dan siswa di kelas?
Apakah pengajaran yang dilakukan hanya untuk diujikan?
Apakah penilaian (melalui pengujian) yang dilakukan telah merefleksikan hasil pembelajaran secara keseluruhan?
Penilaian yang hanya dipandang sebagai cara memberitahukan kepada siswa dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan subjektivitas yang bias dan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, di antaranya
Mendorong pembelajaran secara hafalan dan superfisial
Tujuan utama penilaian lebih dipandang sebagai kompetisi, membandingkan antara siswa satu dengan yang lain ketimbang perbaikan personal
Tidak memperhatikan kesulitan belajar yang mungkin dialami siswa
Memisahkan penilaian dalam proses pembelajaran
Menjadi pendorong pada kecemasan berlebih
Berpengaruh pada rendahnya self-esteem dan self-beliefs sebagai pembelajar
Belajar merupakan proses interaktif di mana siswa mencoba untuk memahami informasi baru dan mengintegrasikannya ke dalam apa yang mereka sudah ketahui, Peran penilaian dalam pembelajaran diperlukan untuk mengukur apa yang siswa ketahui dan perlukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan yang berfungsi sebagai bukti belajar. Di samping itu, penilaian digunakan untuk menginformasikan kepada guru untuk merefleksikan pengajarannya dan membuat perbaikan menuju tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertujuan untuk pemberian skor atau ranking, tetapi juga upaya untuk menyediakan umpan balik kepada siswa maupun guru untuk melakukan perbaikan belajarmengajar sesegera mungkin untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini mengandung makna bahwa penilaian selalu menjadi bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran serta menjadi bagian krusial untuk membantu siswa dan guru dalam meningkatkan efektivitas belajar-mengajar.
LebBlack dan William (1998) melalui studi analisis terhadap 250 penelitian tentang classroom formative assessment yang diterbitkan antara 1987 dan 1998 menemukan bahwa beberapa studi menunjukkan bukti kuat bahwa penilaian dapat membantu siswa untuk meningkatkan standar dan prestasi mereka. Dengan kata lain, fokus penilaian yang terintegrasi dalam pembelajaran lebih kepada bagaimana menghasilkan peningkatan substansial dalam hasil belajar siswa dari pada hanya digunakan untuk mengukur dan melihat hasil belajar. Meskipun demikian, beberapa penelitian di atas belum mengungkapkan secara rinci bagaimana strategi penilaian yang digunakan. Hal ini mendorong penelitian ini untuk mengembangkan desain pembelajaran yang mencakup strategi-strategi penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika, khususnya disekolah dasar. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika disekolah dasar. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini yakni untuk melihat apakah terdapat peningkatan performa matematika siswa sekolah dasar melalui implementasi pembelajaran berbasis penilaian yang dikembangkan.
Istilah pembelajaran berbasis penilaian atau assessment based learning (ABL) dalam penelitian ini mengacu pada peran penilaian sebagai bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran dan digunakan untuk mewadahi tujuan penilaian yang mencakup assessment as learning (AaL), assessment for learning (AfL), dan assessment of learning (AoL). Ketiga bentuk penilaian tersebut memiliki kontribusi masingmasing dalam pembelajaran tetapi dalam cara yang sangat berbeda sehingga ketiganya lebih dipandang sebagai tujuan daripada suatu metode untuk menetapkan hasil yang diinginkan dalam proses pembelajaran bahwa jika fokus utama penilaian ingin meningkatkan pembelajaran untuk semua siswa, peran AaL dan AfL perlu mendapatkan penekanan yang lebih tinggi daripada AoL. Komposisi AaL, AfL, dan AoL yang proporsional sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran dapat diilustrasikan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Piramida Komposisi Penilaian yang Proporsional (WNCP, 2006: 15)
Terdapat setidaknya empat unsur utama yang harus diperhatikan dalam mengembangkan ABL sehingga menghasilkan tujuan untuk menghantarkan siswa belajar mencapai pemahaman, yakni fokus pembelajaran, pertanyaan efektif, umpan balik formatif, penilaian diri dan sejawat (Black dkk, 2003, 2004; Lee, 2006; Council for the Curriculum Examinations and Assessment [CCEA], 2009).
Keefektifan desain ABL terhadap performa matematika diukur dengan menggunakan instrumen tes kemampuan pemecahan pemecahan masalah pada topik operasi bilangan cacah sampai tiga angka. Validitas instrumen dilakukan dengan diskusi antarpeneliti, kemudian dikonsultasikan kepada ahli. Instrumen ini terdiri dari tiga soal yang menggunakan pedoman rubrik untuk pemberian skor. Setiap soal memiliki skor 4 untuk kriteria jawaban yang memenuhi masing-masing indikator, yakni
Memahami dengan benar dan tepat maksud dari setiap pertanyaan tersebut
Menerapkan pengetahuan yang tepat untuk menyelesaikan masalah
Menerapka langkah-langkah yang tepat ketika melakukan perhitungan
Menghasilkan jawaban yang tepat. Dengan demikian,skor maksimal untuk instrumen tes ini adalah 12.
Pertanyaan :
Penilaian yang hanya memberitahukan kepada siswa dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang guru akan hal tersebut?
Kamis, 12 April 2018
Selasa, 03 April 2018
PROSES KOGNITIF SISWA
DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Salah satu karakteristik matematika adalah memiliki objek kajian yang abstrak. Menurut Soedjadi (2000), objek dasar matematika yang berupa fakta, konsep, operasi atau relasi dan prinsip merupakan objek mental atau objek pikiran. Pemahaman siswa tentang objek matematika tersebut tidak dapat dilihat hanya dari prestasi belajar yang diperolehnya, namun perlu diamati bagaimana siswa belajar.
Belajar merupakan aktivitas yang terkait dengan proses kognitif. Proses kognitif adalah proses mental individu yang dapat dipahami sebagai pemrosesan informasi (Jones, 2006). Pemrosesan informasi melibatkan penerimaan informasi dan mengorganisasikannya dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, menyimpan informasi, dan memanggil kembali informasi tersebut ketika dibutuhkan (Slavin, 2009). Atkinson dan Shiffrin mengajukan teori pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa in-formasi diproses dan disimpan dalam tiga tahap, yaitu:
Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki strategi kognitif yang baik. Diyakini bahwa kompetensi sering merupakan hasil dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan di karenakan kemampuan superior pribadi atau kerja keras belaka (Woolfolk, 2008). Pengguna strategi yang baik adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitifnya.
Strategi kognitif dalam pemecahan masalah mencakup:
Dalam memecahkan masalah, siswa atau individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu tersebut serta memengaruhi proses belajarnya, antara lain:
Dalam Altun dan Cakan (2006) disebutkan bahwa dengan mengidentifikasi gaya kognitif siswa, para pendidik terbantu untuk memahami bagaimana seseorang mengorganisasikan dan merepre-sentasikan informasi.
Gaya kognitif mengacu kepada karakteristik seseorang dan konsistensi dalam menanggapi, mengingat, mengorganisasikan, memroses, berpikir dan memecahkan masalah. Pendidikan matematika di tanah air saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, terutama di kalangan pengambil kebijakan, untuk memperbaharui pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja (Sutarto Hadi, 2005).
Pada kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika, jika guru dapat mengatikan antara materi yang dibahas dengan kondisi siswa, baik hobi atau kebutuhan siswa, perkembangan kognitif, lingkungan keseharian, dan bekal yang telah dimiliki siswa, maka akan berdampak positif bagi siswa yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam mempelajari suatu konsep matematika menjadi menyenangkan (joyful learning).
Pembelajaran ini bisa diterapkan melalui penggunaan masalah kontekstual sebagai jembatan pemahaman siswa terhadap matematika, karena penggunaan masalah kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yangdipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.
Misalnya, ketika siswa SMP dihadapkan pada materi pelajaran seperti aritmetika sosial, diharapkan siswa mampu memahami konsep-konsep terkait materi tersebut. Berdasarkan teori belajar bermakna Ausubel, ketika siswa belajar aritmetika sosial, guru dapat membantu siswa dengan memancing pengetahuan siswa terkait masalah jual beli yang pernah mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut mampu memperkuat struktur kognitif siswa sehingga ketika siswa menemui masalah terkait aritmetika sosial, mereka mampu memberikan pemecahan masalah yang sesuai dengan konsep konsep yang telah mereka pelajari dan mereka alami. Pembelajaran dengan menggunakan masalah-masalah kontekstual dan pembelajaran yang menyenangkan sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran harus bermakna (meaningful learning), yang antara lain diajukan oleh Ausubel. Menurut Ausubel (1963: 42-43), ada dua macam proses belajar, yakni proses belajar bermakna dan proses belajar menghafal.
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Jadi, proses belajar tidak sekedar menghafal konsep konsep atau fakta-fakta belaka (root learning), namun berusaha menghubungkan konsep-konsep atau fakta-fakta tersebut untuk menghasilkan pemahaman yang utuh (meaningfull learning), sehingga konsep yang dipelajari dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Belajar bermakna memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan belajar hafalan. Menurut Meral (2009:28), karakteristik belajar bermakna yaitu: Penggabungan substantif pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa Upaya yang disengaja untuk menggabungkan pengetahuan dengan konsep yang lebih tinggi dalam struktur kognitif siswa Pembelajaran yang berkaitan dengan pengalaman baik itu berupa peristiwa atau kejadian yang ada disekitar Komitmen tentang sikap yang berhubungan dengan pengetahuan baru sebelum masuk pada materi yang akan dipelajari.
Dalam pandangan Ausubel, untuk belajar secara bermakna, siswa harus menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar, 2011: 95). Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Menurut Ausubel (Dahar, 2011: 99), prasyarat-prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut.
Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaan materi tergantung pada dua faktor berikut:
Pada pembelajaran matematika, konsep pembelajaran bermakna konsisten dengan pandangan konstruktivis dimana siswa dikatakan memahami jika mereka membangun makna dari pengalaman mereka dengan membuat koneksi kognitif antara pengalaman baru dan pemahaman matematika mereka sebelumnya, tidak sekadar menghafal rumus/dalil.
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kita sebagai guru, dimana jika siswa tidak bisa menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui, sehingga membuat mereka sulit untuk menghubungkan antara pengalaman baru dengan pemahaman materi matematika sebelumnya?
DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Salah satu karakteristik matematika adalah memiliki objek kajian yang abstrak. Menurut Soedjadi (2000), objek dasar matematika yang berupa fakta, konsep, operasi atau relasi dan prinsip merupakan objek mental atau objek pikiran. Pemahaman siswa tentang objek matematika tersebut tidak dapat dilihat hanya dari prestasi belajar yang diperolehnya, namun perlu diamati bagaimana siswa belajar.
Belajar merupakan aktivitas yang terkait dengan proses kognitif. Proses kognitif adalah proses mental individu yang dapat dipahami sebagai pemrosesan informasi (Jones, 2006). Pemrosesan informasi melibatkan penerimaan informasi dan mengorganisasikannya dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, menyimpan informasi, dan memanggil kembali informasi tersebut ketika dibutuhkan (Slavin, 2009). Atkinson dan Shiffrin mengajukan teori pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa in-formasi diproses dan disimpan dalam tiga tahap, yaitu:
- Register pengindraan (sensory memory),
- Memori jangka pendek (short-term memory),
- Memori jangka panjang (long-term memory).
Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki strategi kognitif yang baik. Diyakini bahwa kompetensi sering merupakan hasil dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan di karenakan kemampuan superior pribadi atau kerja keras belaka (Woolfolk, 2008). Pengguna strategi yang baik adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitifnya.
Strategi kognitif dalam pemecahan masalah mencakup:
- Strategi kognitif yang meliputi recall, integrasi, organisasi (recall and transformation), dan elaborasi
- Strategi meta-learning yang meliputi perencanaan, attending, encod-ing, review dan evaluasi.
Dalam memecahkan masalah, siswa atau individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu tersebut serta memengaruhi proses belajarnya, antara lain:
- Kecerdasan
- Keberbakatan
- Gaya kognitif
- Gaya berpikir
- Gaya belajar,
- Daya adopsi
- Kemampuan awal
Dalam Altun dan Cakan (2006) disebutkan bahwa dengan mengidentifikasi gaya kognitif siswa, para pendidik terbantu untuk memahami bagaimana seseorang mengorganisasikan dan merepre-sentasikan informasi.
Gaya kognitif mengacu kepada karakteristik seseorang dan konsistensi dalam menanggapi, mengingat, mengorganisasikan, memroses, berpikir dan memecahkan masalah. Pendidikan matematika di tanah air saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, terutama di kalangan pengambil kebijakan, untuk memperbaharui pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja (Sutarto Hadi, 2005).
Pada kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika, jika guru dapat mengatikan antara materi yang dibahas dengan kondisi siswa, baik hobi atau kebutuhan siswa, perkembangan kognitif, lingkungan keseharian, dan bekal yang telah dimiliki siswa, maka akan berdampak positif bagi siswa yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam mempelajari suatu konsep matematika menjadi menyenangkan (joyful learning).
Pembelajaran ini bisa diterapkan melalui penggunaan masalah kontekstual sebagai jembatan pemahaman siswa terhadap matematika, karena penggunaan masalah kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yangdipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.
Misalnya, ketika siswa SMP dihadapkan pada materi pelajaran seperti aritmetika sosial, diharapkan siswa mampu memahami konsep-konsep terkait materi tersebut. Berdasarkan teori belajar bermakna Ausubel, ketika siswa belajar aritmetika sosial, guru dapat membantu siswa dengan memancing pengetahuan siswa terkait masalah jual beli yang pernah mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut mampu memperkuat struktur kognitif siswa sehingga ketika siswa menemui masalah terkait aritmetika sosial, mereka mampu memberikan pemecahan masalah yang sesuai dengan konsep konsep yang telah mereka pelajari dan mereka alami. Pembelajaran dengan menggunakan masalah-masalah kontekstual dan pembelajaran yang menyenangkan sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran harus bermakna (meaningful learning), yang antara lain diajukan oleh Ausubel. Menurut Ausubel (1963: 42-43), ada dua macam proses belajar, yakni proses belajar bermakna dan proses belajar menghafal.
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Jadi, proses belajar tidak sekedar menghafal konsep konsep atau fakta-fakta belaka (root learning), namun berusaha menghubungkan konsep-konsep atau fakta-fakta tersebut untuk menghasilkan pemahaman yang utuh (meaningfull learning), sehingga konsep yang dipelajari dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Belajar bermakna memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan belajar hafalan. Menurut Meral (2009:28), karakteristik belajar bermakna yaitu: Penggabungan substantif pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa Upaya yang disengaja untuk menggabungkan pengetahuan dengan konsep yang lebih tinggi dalam struktur kognitif siswa Pembelajaran yang berkaitan dengan pengalaman baik itu berupa peristiwa atau kejadian yang ada disekitar Komitmen tentang sikap yang berhubungan dengan pengetahuan baru sebelum masuk pada materi yang akan dipelajari.
Dalam pandangan Ausubel, untuk belajar secara bermakna, siswa harus menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar, 2011: 95). Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Menurut Ausubel (Dahar, 2011: 99), prasyarat-prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut.
Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaan materi tergantung pada dua faktor berikut:
- Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis.
- Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
- Anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna. Tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna.
Pada pembelajaran matematika, konsep pembelajaran bermakna konsisten dengan pandangan konstruktivis dimana siswa dikatakan memahami jika mereka membangun makna dari pengalaman mereka dengan membuat koneksi kognitif antara pengalaman baru dan pemahaman matematika mereka sebelumnya, tidak sekadar menghafal rumus/dalil.
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kita sebagai guru, dimana jika siswa tidak bisa menghubungkan pengetahuan baru (konsep dan proposisi) dengan apa yang telah mereka ketahui, sehingga membuat mereka sulit untuk menghubungkan antara pengalaman baru dengan pemahaman materi matematika sebelumnya?
ANALISIS PSIKOMOTOR DOMAIN SEBAGAI FAKTOR RELEVAN DALAM
PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA
4. HUKUM TENTANG HUBUNGAN
Dari penelitian lvan Parlour (1927) Menggunakan eksperimen terkontrol pada pembelajaran asosiasi melalui pengkondisian sebagai petunjuk, kita dapat menyimpulkan bahwa rangsangan dan kejadian adalah kunci untuk pengenalan.
Menurut Good dan Brophy (1986): 165) menjelaskan bahwa kunci untuk pengenalan “persatuan dari kilat cahaya dan petir adalah hubungan.
Asosiasi mengembangkan secara bertahap melalui kombinasi kedekatan dan pengulangan - berulang pertemuan , dengan asosiasi item membuat kita lebih sadar akan fakta bahwa mereka saling terkait. Kita menjadi dikondisikan untuk mengharapkan stimulus asosiasi untuk terjadi bersama-sama.
Latar belakang guru mengajar:
Guru mengajar dengan alat bantu, instrumen, instrumen visual, verbalisasi, gerakan.
Guru menilai harus menggunakan kriteria yang sama
Dalam penilaian juga perlu menerapkan kedekatan dalam menilai matematika dalam mengajar juga.
Contoh :
Ketika siswa melihat sebuah kubus (nyata atau berimprovisasi) dengan (3x3x3) cm3 dengan konsep x3 (X x X x X), ini menghilangkan abstraksi.
Pertanyaan :
Untuk lebih tau pemahaman konsep matemtaika, tentang hukum tentang hubungan dalam matematika, bagaimana penerapannya dalam pengaplikasian dalam model matematika (kongkrit ke abstrak)?
PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA
4. HUKUM TENTANG HUBUNGAN
Dari penelitian lvan Parlour (1927) Menggunakan eksperimen terkontrol pada pembelajaran asosiasi melalui pengkondisian sebagai petunjuk, kita dapat menyimpulkan bahwa rangsangan dan kejadian adalah kunci untuk pengenalan.
Menurut Good dan Brophy (1986): 165) menjelaskan bahwa kunci untuk pengenalan “persatuan dari kilat cahaya dan petir adalah hubungan.
Asosiasi mengembangkan secara bertahap melalui kombinasi kedekatan dan pengulangan - berulang pertemuan , dengan asosiasi item membuat kita lebih sadar akan fakta bahwa mereka saling terkait. Kita menjadi dikondisikan untuk mengharapkan stimulus asosiasi untuk terjadi bersama-sama.
Latar belakang guru mengajar:
Guru mengajar dengan alat bantu, instrumen, instrumen visual, verbalisasi, gerakan.
Guru menilai harus menggunakan kriteria yang sama
Dalam penilaian juga perlu menerapkan kedekatan dalam menilai matematika dalam mengajar juga.
Contoh :
Ketika siswa melihat sebuah kubus (nyata atau berimprovisasi) dengan (3x3x3) cm3 dengan konsep x3 (X x X x X), ini menghilangkan abstraksi.
Pertanyaan :
Untuk lebih tau pemahaman konsep matemtaika, tentang hukum tentang hubungan dalam matematika, bagaimana penerapannya dalam pengaplikasian dalam model matematika (kongkrit ke abstrak)?
Langganan:
Komentar (Atom)